Selasa, 25 Agustus 2015

Kita Diciptakan Sekufu

Standard


Bukan dari tulang ubun ia dicipta karena tidak layak menjadikan ia disanjung dan dipuja..
Juga bukan dari tulang kaki sebab lebih tidak layak lagi menjadikannya diinjak dan diperbudak...
Tetapi dari rusuk kiri ia dicipta, dekat ke hati untuk dicintai, dekat ke tangan untuk dilindungi....

Puji syukur kepada Allah SWT atas apa yang saya tuliskan diundangan yang pernah saya buat 1 tahun yang lalu. Sebuah undangan yang memberikan syok teraphy kepada teman-teman saya, dari yang muda sampai (apalagi) yang lebih tua dari saya.hehe..
Puji syukur atas apa yang (tadinya) Allah haramkan untuk kami dan mulai saat itu Allah halalkan untuk kami..

Banyak hal, banyak cerita, banyak kejadian, banyak hikmah yang ingin saya bagi kepada teman-teman tentang biduk, hiruk, pikuk dalam rumah tangga yang baru-baru kami gandrungi saat ini. Sudah 12 bulan lebih 15 hari usia pernikahanku. Usia yang masih sangat muda, usia yang masih ringkih, usia yang baru belajar merangkak, masih meraba dan masih menerka. Dan ta’aruf merupakan sebuah hal yang selalu kami lakukan setiap malamnya (eitss…jangan ngeres yach,hehe).

Saat awal-awal pernikahan begitu aneh, malu dan asing rasanya, padahal saya sedang berada di rumah yang saya tinggali selama 1 tahun sendirian. Dan sekarang, ada akhwat dirumahku,hehe..
Haduh..malu rasanya, malu pake banget..
Saking malunya, saat itu (tapi sekarang udah engga), untuk pakai baju saja saya kenakan dikamar mandi. Itu baju doang apalagi yang lain.hehe..

Tiap hari dag..dig..dug..rasanya..
Tapi..saat-saat itu begitu indah dan bahagia (sekarang apalagi), tiap sepulang kerja istriku selalu menyambutku dengan penuh keramahan. Bahkan, saat saya baru turun dari kereta di stasiun bojong waktu itu, istri selalu meng-sms “sudah sampai mana mas ?” tujuan meng-sms adalah untuk bersiap menyambut kedatanganku. Dan sesampai dirumah ia membukakan pintu sambil tersenyum manis, sampai-sampai teh yang sudah disiapkannya itu terasa sangat amat manis.

Masya Allah..sudah 1 tahun berlalu, begitu terasa kebersamaan denganmu wahai adinda..
Walaupun sudah setahun, tetap saja aku belum bisa mengenalmu dengan sempurna. Begitu pun  sebaliknya dengan dirimu. Hubungan kita seolah-olah saling ejek-mengejek, debat-mendebat, sakit-menyakiti tapi sebenarnya kita saling sayang-menyangi, kasih-mengkasihi, cinta-mencintai.

Teringat akan firmaNya..
“dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia meciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya…” (Ar Rum:21)

Kata ‘min anfusikum’ (Allah menciptakan isteri dari jenismu sendiri) salah satu maknanya adalah seorang istri diciptakan dari diri suaminya, dari jiwa-jiwanya dan menurut Ibnu Katsir ini sebagaimana seperti yang disabdakan Rasulullah saw, bahwa hawa diciptakan dari bagian tulang rusuk adam sebelah kiri. Nah, buat para jomblo selamat mencari tulang rusuknya.hehe..

Yah..selama ini saya baru menyadari bahwa kau dicipta memang dari tulang rusukku. Karena banyak hal yang membuat kita saling kasih mengasihi dan saling sayang menyayangi. Memang tak jarang kita berselisih paham, tetapi anehnya dengan mudah dan dengan cepat kita pun kembali bermaafan. Dan itu membuat hubungan kita makin intim, makin mesra, makin menggema sejagad raya (cieileh..witwiww..hehe)

Kita sekufu (selevel)..
Sekufu dalam iman, sekufu dalam nasab, sekufu dalam wajah...

Sering kita berdebat dalam soal fiqih keseharian, tetapi perdebatan itu selalu berakhir dengan guyonan atau malah kemesraan (yang jomblo jangan panas yah,hehe). Perbedaan pemikiran itu bukannya menciptakan kesenjangan malah makin mendekatkan dan menurut saya ini sekufu dalam iman. Kita berbeda pendapat, tetapi karena cara pandang kita soal iman sama (dan ini penting) menjadikan kita tak berlarut dalam perdebatan dan perselisihan karena kita selalu ingat visi kita dalam berumah tangga. (hemm..mantap… :D)

Kau pernah bercerita, bahwa papahmu itu pandai dalam banyak hal. Mulai dari urusan kelistrikan, perkayuan sampai permotoran. Papahmu dengan bangga kau sebut kreatif. Dan tak mau kalah denganmu aku pun bercerita tentang bapakku, bapakku itu pandai dalam banyak hal. Kelistrikan, perkayuan, sampai masak-memasak bapakku bisa. Dan aku pun dengan bangga menyebutkan bahwa bapakku pun kreatif. Kau pun pernah becerita umi-mu itu pandai memasak, masakannya enak, dan terkadang suka jadi juru masak disaat ada acara slametan atau acara-acara sejenis. Waktu itu pun aku tersenyum sinis dan aku juga bilang, mamahku juga jago masak dan sering jadi juru masak di acara-acara. Dan saya akui rasa masakan mamah dengan umi beda tipis bahkan mirip.

Menurutku ini sekufu dalam nasab,
Dari nasab ini kita menjadi anak-anak yang kere+aktif. Dirimu mahir dalam dunia souvenir dan diriku bisa dalam dunia desain grafis. Tidak jauh beda kan ?? bahkan kita saling bersinergi, kau yang membuat benda/barangnya agar terlihat cantik dan aku membuat agar display benda/barang yang kau buat makin ciamiikk. Orang lain yang berimajinasi, kita yang mem-visualisasi. (hm..maknyusss.. :D)

Sekufu dalam wajah ??
Teringat akan perbincangan sore hari saat kita bertamu ke rumah Ummu Alifah (Teh Isfi), beliau bilang “kalau lihat kalian berdua jadi inget waktu rihlah rohis dikatumbiri”, saya menimpali “kok bisa teh ?”, “ya..entah kenapa pas lihat kalian langsung punya feeling pasti jodoh ni, makannya waktu abinya ayash bilang mau jodohin kalian teteh engga kaget dan sangat setuju, hehe”

Mungkin feeling itu hadir dari wajah kami yang sekufu.
Pernah juga kami mengupload foto di instagram dan ada yang comment katanya saya dan istri mirip. Hehe.. (kalo saya sih engga papa dimirip-miripin sama istri, tapi kalo istri mau engga ya dimirip-miripin sama saya :D)

Kesekufuan itu membuat hati tentram,
Kesekufuan itu membuat makin sayang,
Kesekufuan itu membuat makin mesra,
Kesekufuan itu membuat cinta kita makin bergelora,

Kesekufuan juga membuatku sering introspeksi diri saat hati terbakar emosi, salahkah dia ?
Oh..mungkin ada hal yang kurang terkomunikasikan dengan baik, Oh..mungkin ada hal yang salah dariku, mungkin saat terbakar emosi aku sedang bercermin kepada istriku ataupun sebaliknya. Yah..memang kesekufuan ini mengajarkan ku banyak hal, bercermin yang paling nanclebb. Karena istri kita cerminan dari diri kita, ingat firman Allah yang saya sebutkan diatas (coba liat lagi deh). Karena berumah tangga sejatinya membentuk kita makin bijak, makin dewasa, makin ramah, makin sabar, makin sholih/ah, dan makin-makin yang lainnya.

Oya, sekufu juga sering disalah artikan oleh muda-mudi yang sedang asyik kasmaran terbingkai oleh identitas pacaran. Mereka sering menyebut sekufu ini "jodoh" begitu, bila selera makanan  sama, baju yang dikenakan sama, ketemu disuatu tempat dengan tidak disengaja. Engga sepenuhnya salah memang, tetapi konsep sekufu yang Allah maksud bukan seremeh temeh itu, sekufu yang dimaksud adalah sekufu dalam soal iman, sekufu dalam soal mencari ridhonya Allah. Sekufu iman ini yang akan mengantarkan kita kepada 1 kondisi diakhir nanti yaitu selamat atau celaka.

Nah, si muda mudi itu sering bilang begini “ana uhubbuki fillah” artinya aku mencintaimu karena Allah. Sebenarnya engga ada yang salah dengan kalimat ini tetapi yang salah adalah penempatannya dan mereka seneng banget mengutip kalimat setengah-setengah, ambil yang bagus atau enak begitu, buang yang engga perlu atau engga enak. Kalimat yang kumplitnya adalah Aku mencintaimu karena Allah, dengan cara yang diridhoi Allah, dalam rangka mencari ridho Allah. Coba kalo waras/berani bilang begitu sama pasangan belum halalnya.hehe..

Dan akhirnya, untuk temman-temanku yang sholih/ah,yang masih dalam pencarian tulang rusuk dan mencari tahu siapakah pemilik tulang rusuknya. Yakinlah, bahwa Allah akan mempertemukan kalian dengan seseorang yang sekufu. Dan kesekufuan yang paling penting adalah sekufu dalam iman.

Bahkan binatang saja kalau engga sekufu susah, pernah di uji cobakan sapi australia dengan sapi indonesia dikawinkan dan ini tidak sekufu sehingga banyak persoalan yang terjadi, mulai dari sulitnya mencari tempat resepsi, biaya akomodasi yang mahal, sampai restu dari bapak dan ibunya yang sulit didapat.hehe…

0 komentar:

Posting Komentar