Bukan dari tulang ubun ia
dicipta karena tidak layak menjadikan ia disanjung dan dipuja..
Juga bukan dari tulang kaki
sebab lebih tidak layak lagi menjadikannya diinjak dan diperbudak...
Tetapi dari rusuk kiri ia
dicipta, dekat ke hati untuk dicintai, dekat ke tangan untuk
dilindungi....
Puji syukur kepada Allah SWT
atas apa yang saya tuliskan diundangan yang pernah saya buat 1 tahun yang lalu.
Sebuah undangan yang memberikan syok teraphy kepada teman-teman saya, dari yang
muda sampai (apalagi) yang lebih tua dari saya.hehe..
Puji syukur atas apa yang
(tadinya) Allah haramkan untuk kami dan mulai saat itu Allah halalkan untuk
kami..
Banyak hal, banyak cerita,
banyak kejadian, banyak hikmah yang ingin saya bagi kepada teman-teman tentang
biduk, hiruk, pikuk dalam rumah tangga yang baru-baru kami gandrungi saat ini.
Sudah 12 bulan lebih 15 hari usia pernikahanku. Usia yang masih sangat muda,
usia yang masih ringkih, usia yang baru belajar merangkak, masih meraba dan
masih menerka. Dan ta’aruf merupakan sebuah hal yang selalu kami lakukan setiap
malamnya (eitss…jangan ngeres yach,hehe).
Saat awal-awal pernikahan
begitu aneh, malu dan asing rasanya, padahal saya sedang berada di rumah yang
saya tinggali selama 1 tahun sendirian. Dan sekarang, ada akhwat
dirumahku,hehe..
Haduh..malu rasanya, malu pake
banget..
Saking malunya, saat itu (tapi
sekarang udah engga), untuk pakai baju saja saya kenakan dikamar mandi. Itu
baju doang apalagi yang lain.hehe..
Tiap hari
dag..dig..dug..rasanya..
Tapi..saat-saat itu begitu
indah dan bahagia (sekarang apalagi), tiap sepulang kerja istriku selalu
menyambutku dengan penuh keramahan. Bahkan, saat saya baru turun dari kereta di
stasiun bojong waktu itu, istri selalu meng-sms “sudah sampai mana mas ?”
tujuan meng-sms adalah untuk bersiap menyambut kedatanganku. Dan sesampai
dirumah ia membukakan pintu sambil tersenyum manis, sampai-sampai teh yang
sudah disiapkannya itu terasa sangat amat manis.
Masya Allah..sudah 1 tahun
berlalu, begitu terasa kebersamaan denganmu wahai adinda..
Walaupun sudah setahun, tetap
saja aku belum bisa mengenalmu dengan sempurna. Begitu pun sebaliknya
dengan dirimu. Hubungan kita seolah-olah saling ejek-mengejek, debat-mendebat,
sakit-menyakiti tapi sebenarnya kita saling sayang-menyangi, kasih-mengkasihi,
cinta-mencintai.
Teringat akan firmaNya..
“dan diantara tanda-tanda
kekuasaanNya ialah Dia meciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya…” (Ar Rum:21)
Kata ‘min anfusikum’ (Allah menciptakan isteri dari jenismu
sendiri) salah satu maknanya adalah seorang istri diciptakan dari diri
suaminya, dari jiwa-jiwanya dan menurut Ibnu Katsir ini sebagaimana seperti
yang disabdakan Rasulullah saw, bahwa hawa diciptakan dari bagian tulang rusuk
adam sebelah kiri. Nah, buat para jomblo selamat mencari tulang rusuknya.hehe..
Yah..selama ini saya baru
menyadari bahwa kau dicipta memang dari tulang rusukku. Karena banyak hal yang
membuat kita saling kasih mengasihi dan saling sayang menyayangi. Memang tak
jarang kita berselisih paham, tetapi anehnya dengan mudah dan dengan cepat kita
pun kembali bermaafan. Dan itu membuat hubungan kita makin intim, makin mesra,
makin menggema sejagad raya (cieileh..witwiww..hehe)
Kita sekufu (selevel)..
Sekufu dalam iman, sekufu dalam
nasab, sekufu dalam wajah...
Sering kita berdebat dalam soal
fiqih keseharian, tetapi perdebatan itu selalu berakhir dengan guyonan atau
malah kemesraan (yang jomblo jangan panas yah,hehe). Perbedaan pemikiran itu
bukannya menciptakan kesenjangan malah makin mendekatkan dan menurut saya ini
sekufu dalam iman. Kita berbeda pendapat, tetapi karena cara pandang kita soal
iman sama (dan ini penting) menjadikan kita tak berlarut dalam perdebatan dan
perselisihan karena kita selalu ingat visi kita dalam berumah tangga.
(hemm..mantap… :D)
Kau pernah bercerita, bahwa
papahmu itu pandai dalam banyak hal. Mulai dari urusan kelistrikan, perkayuan
sampai permotoran. Papahmu dengan bangga kau sebut kreatif. Dan tak mau kalah
denganmu aku pun bercerita tentang bapakku, bapakku itu pandai dalam banyak
hal. Kelistrikan, perkayuan, sampai masak-memasak bapakku bisa. Dan aku pun
dengan bangga menyebutkan bahwa bapakku pun kreatif. Kau pun pernah becerita
umi-mu itu pandai memasak, masakannya enak, dan terkadang suka jadi juru masak
disaat ada acara slametan atau acara-acara sejenis. Waktu itu pun aku tersenyum
sinis dan aku juga bilang, mamahku juga jago masak dan sering jadi juru masak
di acara-acara. Dan saya akui rasa masakan mamah dengan umi beda tipis bahkan
mirip.
Menurutku ini sekufu dalam
nasab,
Dari nasab ini kita menjadi
anak-anak yang kere+aktif. Dirimu mahir dalam dunia souvenir dan diriku bisa
dalam dunia desain grafis. Tidak jauh beda kan ?? bahkan kita saling
bersinergi, kau yang membuat benda/barangnya agar terlihat cantik dan aku
membuat agar display benda/barang yang kau buat makin ciamiikk. Orang lain yang
berimajinasi, kita yang mem-visualisasi. (hm..maknyusss.. :D)
Sekufu dalam wajah ??
Teringat akan perbincangan sore
hari saat kita bertamu ke rumah Ummu Alifah (Teh Isfi), beliau bilang “kalau
lihat kalian berdua jadi inget waktu rihlah rohis dikatumbiri”, saya menimpali
“kok bisa teh ?”, “ya..entah kenapa pas lihat kalian langsung punya feeling pasti jodoh ni, makannya waktu abinya
ayash bilang mau jodohin kalian teteh engga kaget dan sangat setuju, hehe”
Mungkin feeling itu hadir dari wajah kami yang sekufu.
Pernah juga kami mengupload
foto di instagram dan ada yang comment katanya saya dan istri mirip. Hehe..
(kalo saya sih engga papa dimirip-miripin sama istri, tapi kalo istri mau engga
ya dimirip-miripin sama saya :D)
Kesekufuan itu membuat hati
tentram,
Kesekufuan itu membuat makin
sayang,
Kesekufuan itu membuat makin
mesra,
Kesekufuan itu membuat cinta
kita makin bergelora,
Kesekufuan juga membuatku
sering introspeksi diri saat hati terbakar emosi, salahkah dia ?
Oh..mungkin ada hal yang kurang
terkomunikasikan dengan baik, Oh..mungkin ada hal yang salah dariku, mungkin
saat terbakar emosi aku sedang bercermin kepada istriku ataupun sebaliknya.
Yah..memang kesekufuan ini mengajarkan ku banyak hal, bercermin yang paling
nanclebb. Karena istri kita cerminan dari diri kita, ingat firman Allah yang
saya sebutkan diatas (coba liat lagi deh). Karena berumah tangga sejatinya
membentuk kita makin bijak, makin dewasa, makin ramah, makin sabar, makin
sholih/ah, dan makin-makin yang lainnya.
Oya, sekufu juga sering disalah
artikan oleh muda-mudi yang sedang asyik kasmaran terbingkai oleh identitas
pacaran. Mereka sering menyebut sekufu ini "jodoh" begitu, bila
selera makanan sama, baju yang dikenakan sama, ketemu disuatu tempat
dengan tidak disengaja. Engga sepenuhnya salah memang, tetapi konsep sekufu
yang Allah maksud bukan seremeh temeh itu, sekufu yang dimaksud adalah sekufu
dalam soal iman, sekufu dalam soal mencari ridhonya Allah. Sekufu iman ini yang
akan mengantarkan kita kepada 1 kondisi diakhir nanti yaitu selamat atau
celaka.
Nah, si muda mudi itu sering
bilang begini “ana uhubbuki fillah” artinya aku mencintaimu karena Allah.
Sebenarnya engga ada yang salah dengan kalimat ini tetapi yang salah adalah
penempatannya dan mereka seneng banget mengutip kalimat setengah-setengah,
ambil yang bagus atau enak begitu, buang yang engga perlu atau engga enak.
Kalimat yang kumplitnya adalah Aku mencintaimu karena Allah, dengan cara yang
diridhoi Allah, dalam rangka mencari ridho Allah. Coba kalo waras/berani bilang
begitu sama pasangan belum halalnya.hehe..
Dan akhirnya, untuk
temman-temanku yang sholih/ah,yang masih dalam pencarian tulang rusuk dan
mencari tahu siapakah pemilik tulang rusuknya. Yakinlah, bahwa Allah akan
mempertemukan kalian dengan seseorang yang sekufu. Dan kesekufuan yang paling
penting adalah sekufu dalam iman.
Bahkan binatang saja kalau
engga sekufu susah, pernah di uji cobakan sapi australia dengan sapi indonesia
dikawinkan dan ini tidak sekufu sehingga banyak persoalan yang terjadi, mulai
dari sulitnya mencari tempat resepsi, biaya akomodasi yang mahal, sampai restu
dari bapak dan ibunya yang sulit didapat.hehe…