Senin, 07 September 2015

Lingkaran Qolbu (LIQO)

Standard


Di lingkaran itu ku jumpai wajah saudaraku yg jenaka, pendiam dan yang tampak lelah krn byk amanah. Akal sehat ku menuntun bahwa majelis itu adl bagian paling asasi dari hidupku, mngkin jg mereka.

Di lingkaran itu kita saling bercermin diri, tentang prkembangan tilawah qur'an dan hafalannya, tentang qiyamulail dan tentang puasa sunnahny. Semangatku makin trgugah saat ada yg menyalip amal2ku dan sering kali ku malu mendapati diriku tak bisa mngatur waktu.

Di lingkaran itu kita saling mnyebutkan kabar gembira sampai kabar yg menyedihkan. Ada yg bercerita tntang amanah2nya, keluarganya, pekerjaanya, dsb.

Di lingkaran itu kita saling cicip-mencicipi makanan yg dibawakan oleh salah seorang kawan yg sdg dalam keluasan rizqi, entah itu berupa gorengan, kripik hasimili, gehu panda atau mie jigo.

Sesekali kita ganti setting prtemuannya, shubuh, siang, sore, malam sampai menginap. Kadang kita berolahraga, kita adukan kaki ini diatas rumput sintetis, memperlihatkan siapa yg paling lihai dalam memainkan si kulit bundar. Kadang juga kita berwisata, mengingat Ilahi dan mengagumi ciptaanNya. Kita berdiskusi disaksikan punggung bukit brcemara atau pasir pantai memutih diterpa gelombang.

Dan di lingkaran itu tentu yg jauh lebih utama, kita mengingat Alllah. Kita baca kitabullah, kita kupas isinya dan kita dapati bahwa Al Qur'an mnyuruh kita brsaudara dalam dekapan cinta dan mentauhidkan Allah swt.

Lingkaran itu kusebut sebagai Lingkaran Qolbu (LIQO). Menurutku ada waktu yg harus diprioritaskan untuknya lebih dari segala aktivitas lainnya. Ya..harus ada waktu yg diprioritaskan untuknya.

Karna kaidanya jelas :
Kalau ia tak bersama mereka, ia takkan bersama siapa2; kalau mereka tak bersama dengannya, mereka pasti bersama dg org selain dia.

Kadang mungkin ada kalany kita tak merasakan nikmatnya lingkaran qolbu ini. Padahal, org lain akan melihat kita berubah dan semakin buruk saat kita brhenti mnghadirinya untuk suatu waktu yg cukup lama. Memang, prtemuan ini cuma sepekan sekali. Cuma 2-3 jam dari 168 jam (7hr).

Tetapi bagaimana pun kita tahu, lingkaran ini adl majelis ilmu dan dzikir yg tak berhenti sampai bubarnya lingkaran. Ketika kita tutup pertemuan dan pergi untuk keperluan masing2, tidak ada tekad saat kita bubar, hanya saling bersalaman mendoakan, dan berharap apa yg kita bahas menjadi amal kenyataan.

Namun sejatinya lingkaran itu tak pernah bubar, ia hanya melebar. Melebar seluas aktivitas kita. Dan pekan depan, lingkaran itu merapat kembali. Begitu seterunya, karena tarbiyah itu madal hayah, ia tak lekang oleh waktu, hingga menutup usia..

Moga kau pun merasakan hangatnya lingkaran itu sahabat. Atau mungkin kau merindukannya ? Kalau begitu apa yg kau tunggu ? Bergabunglah segera, maka kau tak akan kecewa. Namun, setelah itu bisa jadi Allah akan mengujimu , mungkin dg perasaan. Kau kan merasa bahwa lingkaran ini tak seperti yg kau harapkan. Maka, bersabarlah..

"Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan." (Al Insyirah:5-6)

Resep Ust. Salim A. Fillah dan disajikan oleh Teguh Budiarso...


Senin, 31 Agustus 2015

Bertemu Denganmu Lewat Istighfar

Standard

Ingin segera ketemu sahabat atau jodoh dunia akhirat ??hehe…
Perbanyaklah istighfarmu sobat !!
Why ??

Ada kisah nih, aktual, fakta dan terpercaya..
Kisah tentang seorang ulama yang terkenal lagi beken –sama aja ya terkenal and beken,hehe-

Imam Ahmad bin Hambal namanya, beliau punya pengalaman menarik lagi unik. Suatu ketika beliau sedang dalam perjalan dan beliau kemalaman. Mengetuk pintu masjid untuk menginap. Tapi Sang Takmir tidak mengizinkan. Beliau membujuk, tetapi sang takmir tetap saja mengusir. Imam Ahmad berkata, “aku akan tidur tepat diatas tempat pijakan telapak kakiku." 

Dan Imam Ahmad benar-benar tidur diatas pijakan telapak kakinya. Tapi Sang Takmir tetap saja mengusir. –huuhh..engga tau apa ya yang diusir itu seorang Imam !!-

Sebagai ulama sepuh yang low profile, karakter ketakwaan dan kesholehan begitu erat dalam dirinya –yeay,mantap-.  Hal ini mengundang simpati seorang tukang roti, dia merasa kasihan dan menawarkan agar beliau menginap di rumahnya.  –yeeyyy…rejeki anak sholeh,hehe-

Imam Ahmad pun dijamu sebagai tamu.
Naahhh…ada yang menarik nih, di saat sang pembuat roti mengaduk-aduk adonan. Sembari ngaduk-aduk adonan tukang roti itu banyak melantunkan istighfar. Istighfar, dan terus beristighfar. Imam Ahmad mendengar. Merasakan kekaguman yang amat besar. Hingga malam berlalu sampai terbit fajar.

Kukuruyyuuukkk… -eh, diarab ada ayam jago engga ya ?hehe-

Shubuh pun tlah tiba… -eitss..shubuh ya bukan libur tlah tiba,hehe-
Imam Ahmad menyapa. Bertanya perihal istighfar yang dibaca oleh tuan rumah, sang pembuat roti.

“Mengapa sepanjang malam, selama membuat adonan engkau senantiasa beristighfar ?” tanya Imam Ahmad. “Apakah engkau menemukan hasil dari istighfarmu itu ?”

“Benar. Demi Allah, setiap kali berdoa selalu dikabulkan, jawabnya, “kecuali satu doa yang belum dikabulkan.” Imam Ahmad pun bertanya penuh penasaran, “Doa apakah yang belum dikabulkan itu ?”

Pembuat roti mengatakan, “Doa supaya bisa melihat Imam Ahmad bin Hambal.”

-Wah, rupanya sang pembuat roti engga tahu wajah Imam Ahmad, yaa..di maklum sih karna dulu kan belum ada tivi-

Lalu Imam Ahmad pun berseru, “Akulah Ahmad bin Hambal. Demi Allah, aku benar-benar ditarik supaya kesini untukmu.”

Masya Allah..bertemu dengan seorang yang dirindu lewat istighfar..

Nahh…buat kamu-kamu yang lagi rindu juga nihhh..
Rindu pengen ketemu jodoh dunia akhirat yang sampe sekarang engga tahu siapa dan dimana keberadaannya, perbanyak deh istighfar mulai sekarang, sapah tau kisahnya kaya di atas atau mungkin lebih unik dan menarik sehingga bisa dijadikan pemantik untuk bersegera dan menyegerakan.hehehe…

Yuks..istighfar..
Astaghfirullaah robbal baraayaa..Astaghfirullaah minal khathaayaa..

Kamis, 27 Agustus 2015

My Style

Standard
Tanggal 20 Februrari 2015 adalah hari dimana seragam kerjaku berubah.
Yap..sekarang aku bekerja di Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa. Sebuah tempat yang memberikan efek positif pertama kali melihatnya, bahkan membacanya. Rumah Sehat bukan Rumah Sakit (karena Kementeriannya aja Kementerian Kesehatan bukan Kesakitan,hehe).

Minggu pertama saya sempat mendapatkan shock teraphy dikarenakan tuntutan kerja yang lebih dibandingkan dengan tempat kerja sebelumnya. Semua saya lakukan sendiri, dari proses administrasi sampai reparasi alat kesehatan.

Huuhhhh...belum lagi merapihkan dokumen-dokumen yang dimana saya kurang srek rasanya bila dokumen itu bukan saya yang buat. walhasil minggu-minggu awal bekerja sambil sibuk mereparasi alat saya pun sibuk didepan komputer untuk merevisi dokumen-dokumen.

Entah kenapa, saat melihat dokumen-dokumen yang ada itu rasanya ingin merubahnya mejadi lebih enak dilihat. Lalu inisiatif itu pun muncul, pada laporan bulan pertama saya bekerja. Saya merubah format laporan yang menurut saya lebih enak dilihat menjadi seperti ini.



Yahh..walaupun gak bagus-bagus amat tapi eye catching laahh...hehe..
Dan apa yang terjadi setelah saya merubah format laporan ini ??
Ternyata saya mendapatkan apresiasi yang cukup baik dari manager saya, doi bilang "laporan yang begini simple dan informatif, yang lain harus contoh nih". Wuiihhh..berasa terbang, baru masuk langsung dipuji-puji.hehe..

Tapi...tapi...ada tapinya..
Apresiasi yang baik itu ternyata tak selalu berdampak positif kepada yang dipuji. Awalnya saya merasa bangga, tapi detik-detik berlalu dan saya berpikir. Teman-teman yang lain belum bisa membuat grafik seperti itu karena saya membuatnya bukan di Excel melainkan di Corel Draw, apakah tak membebani yang lain, ditambah manager pengen semua staffnya bisa dan pakai format yang saya buat...

Hmmm...yahhh...demi kesejahteraan bersama (kaya film dudung ya,hehe)
Saya pun memutuskan untuk tidak melanjutkan format laporan itu dan saya pun kembali pada format sebelumnya yang biasa-biasa aja.

Matahari tenggelam dan terbit, tak terasa kepala bagian menjerit meminta laporan bulanan agar segera terbit di emailnya. Dan saat rapat divisi saya mendapat teguran karena laporan saya kok balik lagi keasal bukan kaya kemaren kata manager. Ya..saya hanya bisa bilang.. "anu bu..anu..."

Ndak papa lah dapat teguran yang penting semua enak, iya gak ? :D
Kebersamaan itu jauh lebih penting dari sekedar pujian dan dapet lirikan dari atasan. Karena engga mau saya jadi kaya kodok, sikat kiri, sikat kanan, tendang kiri, tendang kanan, terus jilat keatas.

Setelah itu kembali lagi kepada rutinitas yang biasa dilakukan yaitu jadi Cowok Panggilan,hehe..
Panggilan-panggilan itu pun berdatangan bahkan terkadang saya yang menjemput panggilan-panggilan itu, ya..biar disangka kerja.hehe...
Akhirnya sampai juga pada sebuah panggilan dari manager saya meminta keruangannya dan memperlihatkan Grafik Pie yang dibuat atasan saya dan dia merasa tidak puas dan meminta saya untuk kembali pada Grafik Pie yang pernah saya buat dahulu.

"Woowww..alhamdulillah, bisa bekreasi lagi" pikirku,hehe
Dan segera kubuat laporan untuk bulan Agustus ini dengan kreasiku yang kuinginkan. Dan jadi lah seperti ini..








Lebih kereennn kaannnnn....hehehe (pede banget gueh,, :D)
Yang pasti this is my style and i like this.. :)

Memberikan yang terbaik agar mendapatkan yang terbaik..
Profesional, Amanah, Ibadah, agar lebih Barakah mengusung Jannah sebagai rumah tempat kembali. :)




Rabu, 26 Agustus 2015

Merayakan Cinta #1th

Standard

Desain ini ku buat sebagai bentuk rasa syukurku atas apa yang sudah Allah karuniakan padaku. Seorang istri, seorang pendamping, seorang yang sering menyentilku dengan celotehan, ejekan, bahkan sindiran tajam dan terpercaya (kaya slogan apa ya?hehe) menjadikanku selalu ingat padaNya.

Walau ku tahu bahwa desain ini bukanlah apa-apa dan tak seberapa atas karunia yang kudapatkan. Desain ini ku buat agar selalu kuingat bahwa aku sudah menikah dan secara sadar aku harus menghentikan proses memilih. 

Ya..hidup memang pilihan, semasa bujang aku masih bisa memilih akhwat yang cocok dengan kriteriaku dan kesekufuanku, tetapi setelah mitsaqon gholizho itu terucap, maka proses memilih pun terhenti dan secara sadar pula aku harus menerima segala konsekuensi dari pilihan yang ku tetapkan. Aku harus menerima segala kelebihan serta kekurangan istriku.

Bukan hanya aku yang harus memilih dan menanggung segala konsekuensi, tetapi istriku pun sama. Bahkan mungkin ia lebih berat menanggung konsekuensi ini dibandingkan dengan diriku.

Sekarang, istriku adalah tanggung jawabku.
Allah mengamanahkanmu padaku..
Segala kebengkokan yang ada pada dirimu mulai saat itu akulah yang harus meluruskannya, bukan malah mencelamu, mengejekmu, menghinamu (na'udzubillah).

Tak pantas ku menyesal, karna kau adalah pilihanku. Karna kau pendampiku di dunia dan insyaAllah di surgaNya. Karena kau adalah seseorang yang sudah Allah tuliskan di Lauh Mahfudz.

Aku mencintaimu karena Allah, dengan cara yang diridhoi Allah, dalam rangka mencari ridho Allah, Mega Puspita :)

Selasa, 25 Agustus 2015

Kita Diciptakan Sekufu

Standard


Bukan dari tulang ubun ia dicipta karena tidak layak menjadikan ia disanjung dan dipuja..
Juga bukan dari tulang kaki sebab lebih tidak layak lagi menjadikannya diinjak dan diperbudak...
Tetapi dari rusuk kiri ia dicipta, dekat ke hati untuk dicintai, dekat ke tangan untuk dilindungi....

Puji syukur kepada Allah SWT atas apa yang saya tuliskan diundangan yang pernah saya buat 1 tahun yang lalu. Sebuah undangan yang memberikan syok teraphy kepada teman-teman saya, dari yang muda sampai (apalagi) yang lebih tua dari saya.hehe..
Puji syukur atas apa yang (tadinya) Allah haramkan untuk kami dan mulai saat itu Allah halalkan untuk kami..

Banyak hal, banyak cerita, banyak kejadian, banyak hikmah yang ingin saya bagi kepada teman-teman tentang biduk, hiruk, pikuk dalam rumah tangga yang baru-baru kami gandrungi saat ini. Sudah 12 bulan lebih 15 hari usia pernikahanku. Usia yang masih sangat muda, usia yang masih ringkih, usia yang baru belajar merangkak, masih meraba dan masih menerka. Dan ta’aruf merupakan sebuah hal yang selalu kami lakukan setiap malamnya (eitss…jangan ngeres yach,hehe).

Saat awal-awal pernikahan begitu aneh, malu dan asing rasanya, padahal saya sedang berada di rumah yang saya tinggali selama 1 tahun sendirian. Dan sekarang, ada akhwat dirumahku,hehe..
Haduh..malu rasanya, malu pake banget..
Saking malunya, saat itu (tapi sekarang udah engga), untuk pakai baju saja saya kenakan dikamar mandi. Itu baju doang apalagi yang lain.hehe..

Tiap hari dag..dig..dug..rasanya..
Tapi..saat-saat itu begitu indah dan bahagia (sekarang apalagi), tiap sepulang kerja istriku selalu menyambutku dengan penuh keramahan. Bahkan, saat saya baru turun dari kereta di stasiun bojong waktu itu, istri selalu meng-sms “sudah sampai mana mas ?” tujuan meng-sms adalah untuk bersiap menyambut kedatanganku. Dan sesampai dirumah ia membukakan pintu sambil tersenyum manis, sampai-sampai teh yang sudah disiapkannya itu terasa sangat amat manis.

Masya Allah..sudah 1 tahun berlalu, begitu terasa kebersamaan denganmu wahai adinda..
Walaupun sudah setahun, tetap saja aku belum bisa mengenalmu dengan sempurna. Begitu pun  sebaliknya dengan dirimu. Hubungan kita seolah-olah saling ejek-mengejek, debat-mendebat, sakit-menyakiti tapi sebenarnya kita saling sayang-menyangi, kasih-mengkasihi, cinta-mencintai.

Teringat akan firmaNya..
“dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia meciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya…” (Ar Rum:21)

Kata ‘min anfusikum’ (Allah menciptakan isteri dari jenismu sendiri) salah satu maknanya adalah seorang istri diciptakan dari diri suaminya, dari jiwa-jiwanya dan menurut Ibnu Katsir ini sebagaimana seperti yang disabdakan Rasulullah saw, bahwa hawa diciptakan dari bagian tulang rusuk adam sebelah kiri. Nah, buat para jomblo selamat mencari tulang rusuknya.hehe..

Yah..selama ini saya baru menyadari bahwa kau dicipta memang dari tulang rusukku. Karena banyak hal yang membuat kita saling kasih mengasihi dan saling sayang menyayangi. Memang tak jarang kita berselisih paham, tetapi anehnya dengan mudah dan dengan cepat kita pun kembali bermaafan. Dan itu membuat hubungan kita makin intim, makin mesra, makin menggema sejagad raya (cieileh..witwiww..hehe)

Kita sekufu (selevel)..
Sekufu dalam iman, sekufu dalam nasab, sekufu dalam wajah...

Sering kita berdebat dalam soal fiqih keseharian, tetapi perdebatan itu selalu berakhir dengan guyonan atau malah kemesraan (yang jomblo jangan panas yah,hehe). Perbedaan pemikiran itu bukannya menciptakan kesenjangan malah makin mendekatkan dan menurut saya ini sekufu dalam iman. Kita berbeda pendapat, tetapi karena cara pandang kita soal iman sama (dan ini penting) menjadikan kita tak berlarut dalam perdebatan dan perselisihan karena kita selalu ingat visi kita dalam berumah tangga. (hemm..mantap… :D)

Kau pernah bercerita, bahwa papahmu itu pandai dalam banyak hal. Mulai dari urusan kelistrikan, perkayuan sampai permotoran. Papahmu dengan bangga kau sebut kreatif. Dan tak mau kalah denganmu aku pun bercerita tentang bapakku, bapakku itu pandai dalam banyak hal. Kelistrikan, perkayuan, sampai masak-memasak bapakku bisa. Dan aku pun dengan bangga menyebutkan bahwa bapakku pun kreatif. Kau pun pernah becerita umi-mu itu pandai memasak, masakannya enak, dan terkadang suka jadi juru masak disaat ada acara slametan atau acara-acara sejenis. Waktu itu pun aku tersenyum sinis dan aku juga bilang, mamahku juga jago masak dan sering jadi juru masak di acara-acara. Dan saya akui rasa masakan mamah dengan umi beda tipis bahkan mirip.

Menurutku ini sekufu dalam nasab,
Dari nasab ini kita menjadi anak-anak yang kere+aktif. Dirimu mahir dalam dunia souvenir dan diriku bisa dalam dunia desain grafis. Tidak jauh beda kan ?? bahkan kita saling bersinergi, kau yang membuat benda/barangnya agar terlihat cantik dan aku membuat agar display benda/barang yang kau buat makin ciamiikk. Orang lain yang berimajinasi, kita yang mem-visualisasi. (hm..maknyusss.. :D)

Sekufu dalam wajah ??
Teringat akan perbincangan sore hari saat kita bertamu ke rumah Ummu Alifah (Teh Isfi), beliau bilang “kalau lihat kalian berdua jadi inget waktu rihlah rohis dikatumbiri”, saya menimpali “kok bisa teh ?”, “ya..entah kenapa pas lihat kalian langsung punya feeling pasti jodoh ni, makannya waktu abinya ayash bilang mau jodohin kalian teteh engga kaget dan sangat setuju, hehe”

Mungkin feeling itu hadir dari wajah kami yang sekufu.
Pernah juga kami mengupload foto di instagram dan ada yang comment katanya saya dan istri mirip. Hehe.. (kalo saya sih engga papa dimirip-miripin sama istri, tapi kalo istri mau engga ya dimirip-miripin sama saya :D)

Kesekufuan itu membuat hati tentram,
Kesekufuan itu membuat makin sayang,
Kesekufuan itu membuat makin mesra,
Kesekufuan itu membuat cinta kita makin bergelora,

Kesekufuan juga membuatku sering introspeksi diri saat hati terbakar emosi, salahkah dia ?
Oh..mungkin ada hal yang kurang terkomunikasikan dengan baik, Oh..mungkin ada hal yang salah dariku, mungkin saat terbakar emosi aku sedang bercermin kepada istriku ataupun sebaliknya. Yah..memang kesekufuan ini mengajarkan ku banyak hal, bercermin yang paling nanclebb. Karena istri kita cerminan dari diri kita, ingat firman Allah yang saya sebutkan diatas (coba liat lagi deh). Karena berumah tangga sejatinya membentuk kita makin bijak, makin dewasa, makin ramah, makin sabar, makin sholih/ah, dan makin-makin yang lainnya.

Oya, sekufu juga sering disalah artikan oleh muda-mudi yang sedang asyik kasmaran terbingkai oleh identitas pacaran. Mereka sering menyebut sekufu ini "jodoh" begitu, bila selera makanan  sama, baju yang dikenakan sama, ketemu disuatu tempat dengan tidak disengaja. Engga sepenuhnya salah memang, tetapi konsep sekufu yang Allah maksud bukan seremeh temeh itu, sekufu yang dimaksud adalah sekufu dalam soal iman, sekufu dalam soal mencari ridhonya Allah. Sekufu iman ini yang akan mengantarkan kita kepada 1 kondisi diakhir nanti yaitu selamat atau celaka.

Nah, si muda mudi itu sering bilang begini “ana uhubbuki fillah” artinya aku mencintaimu karena Allah. Sebenarnya engga ada yang salah dengan kalimat ini tetapi yang salah adalah penempatannya dan mereka seneng banget mengutip kalimat setengah-setengah, ambil yang bagus atau enak begitu, buang yang engga perlu atau engga enak. Kalimat yang kumplitnya adalah Aku mencintaimu karena Allah, dengan cara yang diridhoi Allah, dalam rangka mencari ridho Allah. Coba kalo waras/berani bilang begitu sama pasangan belum halalnya.hehe..

Dan akhirnya, untuk temman-temanku yang sholih/ah,yang masih dalam pencarian tulang rusuk dan mencari tahu siapakah pemilik tulang rusuknya. Yakinlah, bahwa Allah akan mempertemukan kalian dengan seseorang yang sekufu. Dan kesekufuan yang paling penting adalah sekufu dalam iman.

Bahkan binatang saja kalau engga sekufu susah, pernah di uji cobakan sapi australia dengan sapi indonesia dikawinkan dan ini tidak sekufu sehingga banyak persoalan yang terjadi, mulai dari sulitnya mencari tempat resepsi, biaya akomodasi yang mahal, sampai restu dari bapak dan ibunya yang sulit didapat.hehe…

Minggu, 04 Januari 2015

Sepotong Episode Pernikahanku (The End)

Standard
Kini berpadulah dua hati dalam mahligai cinta
Ikatan nan agung sebagian agama
Allah telah menghalalkanmu menjadi pendamping bagiku
Dan kau pun tlah mengikhlaskanku menjadi pendampingmu
Nuansa: Mahligai Cinta



Saat itu juga langsung saya telpon Mamahku yang berada di Klaten, saya minta ijin kepada Mamah dan Bapak untuk menjual motor sebagai modal nikah. Awalnya mamah tidak setuju, –mungkin pikir ortuku, “belum saja tenang dengan keputusan saya untuk segera menikah. Sekarang motor minta dijual”, hehe…

Tetapi setelah saya bicarakan baik-baik Mamah pun setuju dan setujunya mamah menyertai setujunya Bapak juga.

“Ya..sudah, gimana baiknya aja menurut kamu. Toh, yang mau nikah kan kamu, yang bakal ngejalanin kan kamu dan kamu juga yang bakal nanggung resikonya. Mamah sama Bapak cuma bisa mendoakan yang terbaik buat kamu aja guhh..” kalimat terakhir yang diucapkan oleh Mamahku ini memadamkan rasa gelisah dan takut dalam qolbu.

Subhanallah…satu lagi kemudahan dari Allah.
Alhamdulillahirobbil’alamiin…
Tak pikir panjang, saya langsung memasang iklan jual motor di status facebook, di grup-grup what’s app dan di BBM pada tanggal 17 Juni 2014. Dan alhamdulillah, tanpa menunggu lama, jeda empat hari tepatnya tanggal 21 Juni 2014 pukul 19.30 motor kesayanganku pun berpindah tangan. Rasanya tak begitu sedih saat kuserahkan BPKB serta STNK kepada si pembeli, karena dalam pikiranku, “semua ini kulakukan untuk menyempurnakan separuh agamaku..Lillah, Fillah..”

Tapi…hehehe..Agak ngenes juga,
Soalnya pas berangkat bawa motor, pulangnya cuma bawa helm. Hehe..
Alhamdulillah dapet tumpangan dari Akh Nuril buat kekontrakan, karena kalo diatas jam 20.30 sudah sangat jarang angkot 32 melintas di Jl. Raya Pemda.

Sesampainya di kontrakan saya pun menghubungi Murobbi memberitahukan motor sudah terjual. Dan beliau pun menanyakan kapan akan melakukan lamaran –kami melewatkan proses ta’aruf dikarenakan menurut Murobbi antara saya dan calon istri sudah saling mengenal–, karena saat itu saya menjanjikan kepada beliau bahwa saya belum bisa melakukan prosesi lamaran sebelum saya memegang uang. Yap..saya katakan dengan mantap “minggu depan akhi, saya siap melamar Bidadari Surgaku, hhe..”, cielaahh..uhuuyyyy..hahahaha

Wahhhh….tanggal 28 Juli 2014 menjadi hari bersejarah buat saya.
Engga bakalan saya lupain cooyy…hahaha…entar juga bakal ngerasain lo pada..hehe..

Saat dipersilahkaan untuk menyampaikan “maksud kedatangan” oleh Akh Deni (Murobbi) sebagai moderator, rasanya keringet dingin, mulut ke kunci, blank, gak tau mesti ngomong apa. Tapi bukan Teguh Budiarso namanya kalo ciut sama yang begituan, hehe…

Saya tatap Ibu dan Bapaknya, lalu saya katakan..
“Mengutip sebuah tulisan dari buku Ust. Fauzil Adhim, saat candaan teman tak lagi menentramkan hati, saat pandangan sudah sulit untuk ditundukkan, dan saat hati sudah sering gelisah karna kesendirian, mungkin ini saatnya untuk saya menikah. Maksud kedatangan saya kesini adalah hendak meminang salah satu Bidadari yang Ibu lahirkan yaitu putri ke dua Ibu dan Bapak yang bernama Mega Puspita. Sekiranya lamaran saya ini dapat diterima ?”

Huuuhhhh…leggaaaa….
Eitss….tunggu dulu…
Bapaknya belum jawab neh..hehe

Bapaknya pun memberikan jawaban,
“Kalau dari Bapa dan Ibu sih nerima-nerima aja yah guh, tapi kan engga tau dari Mega-nya mau nerima atau engga. Mending kamu ngomong langsung aja sama Mega.”
Lalu Ibunya memanggil anaknya yang dimaksudkan oleh Bapaknya.

Weeeww…tadi disuruh ngomong didepan ortunya aja udah glagapan, apalagi didepan doskinya langsung nih..ckckck…

Tak memerlukan waktu lama saya pun berucap, to the point aja dah, udah lupa soalnya, hehe…
“Maksud kedatangan saya kesini adalah hendak meminang adinda mega untuk menjadi Permaisuri di Istana Sederhanaku. Apakah adinda Mega bersedia ??

Dan…terucaplah tiga kata dari sang Bidadari yang membuncahkan hati ini..
“Iya…saya bersedia”

Alhamdulillahirobbil’alamiin…
Jelek-jelek begini, laku juga gue booyyy..hahaha (*bercanda)

Pembicaraan pun dilanjutkan perihal tanggal dan konsep acara. Saat menyampaikan konsep acara Bapaknya sangat antusias, setuju banget dah pokoknya, tapi dari Sang Ibu sebaliknya. Hmm…hal ini sempat membuat saya sangat stress.

Alhamdulillah, sepekan dari kedatangan kami dengan bujukan dari sang akhwat kepada Ibunya, akhirnya Ibunya pun merestui tentang konsep kami. Dan bulan pernikahan pun ditetapkan yaitu bulan Oktober. Ada sebuah peristiwa kecil tapi begitu matil yang menghentakkan saya. Yaitu ketika saya meminta bantuan kepada istri Murobbi saya ­Teh Isfi– untuk membelikan cincin kawin. Waktu itu kami chat lewat WhatsApp, dan beliau tanya “kapan fix waktunya ?”, saya jawab “bulan Dzulhijah teh insyaAllah”, beliau membalas “oh..dikira teteh bulan syawal”.

Rasa-rasanya seperti dapet bogeman di dada, entah kenapa..hm..
Sesudah itu saya rebahan, lalu saya berpikir..
Dulu alasan saya menunda menikah adalah karena saya belum punya uang tapi sekarang saya sudah punya mengapa saya tunda menjadi bulan Oktober. Hm…
Langsung saya bangkit dan telepon Murobbi saya dan saya bilang “Akhi, Ana mau nikah bulan Agustus”, jawab Murobbi “oke siap, nanti malam kerumah yah untuk buat timeline nya”.

Singkat cerita,
Timeline sudah dibuat, saya juga sudah menghubungi pihak akhwat untuk mengkoordinasikan dengan orang tuanya, lalu saya mengundang teman-teman liqo ke kontrakan saya untuk membentuk panitia. Waktu itu, heboh betul pas pada tau saya mau nikah, wah..bener-bener deh pokoknya, apalagi yang usianya diatas saya, merasa tersalip..hehehe

Tanggal 12 Juli 2014 prosesi seserahan dilakukan dan sangat sederhaaannaaa… sekali, seperti yang saya idam-idamkan. Karena orang tua saya berada di Jawa, jadi yang mendampingi lamaran dan seserahan Kakak laki-laki saya. Pokoknya, proses berjalan begitu mudah dan waktu itu juga pas lagi bulan Romadhon –insyaAllah tambah berkah–.

Tapi, yahh…tetap aja si galau itu selalu muncul. Entah kenapa selama saya menunggu tanggal pernikahan saya ga bisa tidur nyenyak dan tidur itu selalu diatas jam 24.00 WIB. Bingung saya juga, jadinya saya suka ga sahur –eits,,tapi puasa mah full 29 hari no bolong– karena bangun pas adzan shubuh, paling minum air putih doang segelas.

Ada rasa khwatir saat itu mengenai biaya pernikahan, karena saya menikah di bulan Agustus dan masih ada efek dari Idul Fitri –yang biasanya bahan sembako sama ongkos bus mahal–, saya takut uang saya engga cukup. Tapi, Subhanallah..rejeki itu emang datang dari arah yang tidak disangka-sangka dan ada aja rejeki mah. Jadi teringat perkataan seorang teman Akh Achmad Syaefillah..

“Kalau belum waktunya nikah, ngumpulin uang 1 juta itu susahnya minta ampun. Tapi kalo sudah waktunya, ngumpulin uang 6 juta tuh cepet banget.”

Yah..mungkin memang sudah waktunya saya menikah…
1 hari sebelum saya menikah, saya mencoba flash back. Melihat perjalanan saya hingga bisa sampai pada tahap ini. Subhanallah, Maha Besar Allah…

Semua rangkaian peristiwa yang saya lalui itu ada hikmahnya dan menjadi sebuah pembelajaran bagi saya untuk bisa mencapai pada tahap menikah di usia 22 dan di tahun 2014. Sebuah impian yang cuma saya tulis di sehelai kertas itu pun menjadi kenyataan. Betul-betul engga sangka dan tak pernah menyangka akan mejadi sebuah kenyataan.

Baik, saya akan beberkan hikmah yang bisa saya ambil dari perjalanan saya sebelumnya. Karena memang ini tujuan saya menceritakan Sepotong Episode Pernikahanku, supaya kita tetap terus dan harus bisa ber-khusnuzhon kepada Allah atas segala apa yang sudah Allah tetapkan.

Yang Pertama
Saat ujian itu datang kepada keluarga saya dan mesti kehilangan rumah. Keadaan menuntut saya untuk berpenghasilan sebagai tambahan uang jajan. Alhamdulillah, saya memiliki keterampilan di bidang desain grafis. Murobbi saya Akh Deni juga bergerak di bidang usaha desain grafis sehingga saya diangkat menjadi asisten-nya. Disini saya menemukan keahlian saya –bahasa kerennya, passion– yaitu didunia deesain grafis. Saya belajar mempergunakan keahlian saya ini untuk bisa mencari uang tambahan utuk kuliah saya. Yah..Alhamdulillah uangnya bisa buat membelikan mainan untuk keponakan, makanan untuk keluarga dan gadget untuk saya. Dan dari dunia ini juga saya bisa menginap di hotel-hotel –jadi gak katrok-katrok amat gitu kalo ke hotel,hehe– karena terkadang saya diajak Akh Deni untuk menemaninya pada acara-acara untuk menjadi Steering Committee.

Yang Kedua
Tinggal dikontrakan mengajarkan saya sebuah kemandirian. Pernah terbersit di benak saya, bila saya terus tinggal bersama orang tua, bagaimana mungkin saya bisa menikah di usia muda. Ga mungkin saya diijinkan, ya..gimana coba. Baju dicuciin, makan disiapin, rumah selalu bersih, minta apa selalu dikasih. Betul-betul engga mandiri, padahal saya tidak menginginkan seperti itu tetapi orang tua saya yang melakukannya seperti itu sebagai bentuk tanda sayang. Hm…ya..ga bisa nolak juga kan jadinya, terus jadi keasyikan deh..hehe

Tetapi saat hidup sendiri saya harus mencuci pakaian sendiri, masak, makan, nyetrika, dll semuanya sendiri. Bahkan kadang-kadang bajunya Eja saya cucikan dan setrikakan,hehe..
Dan saya juga jadi seneng rapi-rapi rumah, pokoknya rumah harus bersih dan rapih. Boleh tanyakan kepada kawan saya Eja, berapa kali saya nyapu dalam sehari kalo lagi libur, hehehe…

Lalu, tinggal sendiri itu mengajarkan saya untuk menggantungkan harapan hanya kepada Allah. Karena tidak ada lagi orang yang bisa saya mintai pertolongan selain pada Allah. Dulu masih ada orang tua jadi kalo –misal– saya kekurangan uang ya..tinggal minta. Tapi sekarang ?! Udah ga berlaku lagi coy, saya harus bisa memanage dan memprioritaskan sesuatu hal. Pengen apa atau butuh apa ya..minta dulu sama Allah..hehe, kalo dulu minta ke ortu dulu kalo engga dikasih baru minta ke Allah.hehe..

Yang Ketiga
Pergi ke Bandung, seperti berhijrah dan melakukan perbaikan ruhiyah.
Yah..pergi kebandung selama tiga bulan membuat saya jadi lebih dekat dengan Allah. Ibadah yaumiyah saya Alhamdulillah mengalami perbaikan. Qiyamulail, shoum sunnah, sholat berjamaah, tilawah dan semuanya saya kerjakan secara kontinyu. Hampir setiap malam saat tahajud saya bermunajat kepada Allah untuk bisa diberikan jalan, waktu dan pasangan yang terbaik untuk saya mengarungi mahligai rumah tangga.

Yang Kempat
Menjual motor membuat saya terhindar dari hutang, jadi setelah selesai pernikahan engga pusing mikirin hutang,hehe..
Yah..hutang itu membuat kita senang di siang hari tetapi membuat kita pusing dimalam hari. Nasehat ini saya dapat dari Pak Reza salah satu peserta pelatihan ketika saya di Bandung. Waktu itu saya minta nasihat dari beliau tentang menikah dan beliau menyarankan saya untuk tidak berhutang. Dan sekarang Alhamdulillah setelah saya menikah saya engga pusing dengan hutang ­lah, wong ga punya utang,hehe–

Hikmah ini bisa dijadikan pelajaran untuk teman-teman yang ingin menyegerakan menikah. Menikah itu enaknya cuma 1% tapi 99% nya enakkk bingiittt…hehe..
Jangan hanya berkhayal atau berharap atau mengiba ingin segera menikah tanpa melakukan sebuah usaha. Menikah juga perlu persiapan karena menikah itu bukan sembarang urusan, banyak hal yang akan kita hadapi saat sudah berkeluarga, karena menikah bukan antara kamu dan dia melainkan antara keluargamu dan keluarganya.

Waktu itu saat saya pikir saya engga bisa nikah di usia 22 tahun. Saya tetap berusaha mempersiapkan apa yang perlu disiakan ketika sudah berumah tangga. membaca buku pernikahan disela-sela waktu, melatih fisik dengan berolahraga seminggu sekali minimal dan push up & angkat bebn hampir setiap hari serta yang paling penting perbaikan ruhiyah, saya targetkan sebelum menikah minmal Juz 30 sudah hafal Alhamdulillah sudah walopun suka lupa-lupa,hehe

Bisa teman-teman lihat dari kisah saya, Allah mendidik saya dengan ujian-ujian yang sehingga saya mengetahui potensi saya, saya bisa hidup mandiri karena ini salah satu modal utama dalam menjalani biduk rumah tangga –menurut saya–, ruhiyah dan keilmuaan saya ditingkatkan dengan berhijrah sementara ke bandung, dan terakhir Allah membantu saya untuk terbebas dari lilitan hutang.

Subhanallah..sungguh luar biasa rasanya bila saya memikirkan hal ini.
Sebuah rangkain peristiwa yang didalamnya sebenarnya menyiapkan diri saya untuk dapat menikah diusia 22 tahun. Lelah dan sedih bahkan terkadang air mata ini terjatuh melalui rangkaian peristiwa itu. Sekitar 15 bulan proses ini berlangsung, proses persiapan saya untuk dapat menikah diusia 22 tahun. Laa haula walaa quwwata illaa billah..

Pesan saya kepada teman-teman yang ingin menyegerakan untuk melangkah menikah –bukan bermaksud untuk menggurui. Luruskan niatmu, perbaiki ruhiyahmu, tambahkan ilmumu, mandirikan dirimu sehingga kau lebih dewasa. Kalo urusan buat modal nikah atau biaya resepsi mah gampang, urusan belakangan itu mah.hehe

Dan akhirnya hari itu pun tiba,
Tanggal 13 Syawal 1435 H atau 10 Agustus 2014, Arasy pun bergetar, setan-setan ciut, kedua orang tua tersenyum bahagia menyaksikan putra bungsunya mengikrarkan janji suci di Masjid Nurul Ahya pukul 09.00 WIB..


Subhanallah..Walhamdulillah..Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah…

The End…
Semoga bemanfaat...

Sabtu, 03 Januari 2015

Sepotong Episode Pernikahanku (Part 2)

Standard
Orang suci,
Menjaga kesuciannya dengan pernikahan
Menjaga pernikahannya dengan kesucian
-Salim A. Fillah-


Sorry mayori ni mas bro and mba broo..saya baru bisa lanjut lagi cerita yang Sepotong Episode Pernikahanku (Part 1). Soalnya kemarin lagi sibuk pindah rumah –eh..kontrakan deng, hehe..– ditambah kemarin CPU komputer sempat jatoh pas lagi pindahan, untung ada anak Teknik Informatika –istri maksudnya– jadinya bisa diantisipasi kerusakannya.hhe..

Dilanjut yaahhh….

Saat itu saya benar-benar engga yakin kalo saya bakal bisa menikah diusia 22 tahun. Bahkan saat ditanya sama seorang kawan kapan nikah, jawaban saya “ya…ga tau lah, liat aja nanti”. Hm…rasanya bener-bener udah nggak ada harapan. Ditambah pertanyaan dari kawanku yang bernama Eja Suteja yang hampir setiap hari selalu nanya “jadi, kapan nikah ?” membuat saya makin stress dan punya beban di hati.

Hm…tapiii…
Setiap kali saya sholat qiyamulail ada rasa rindu yang begitu akut dari dalam hati. Rasa-rasanya ingin sekali ada ma’mum –istri maksudnya– yang menemani. Setiap harinya perasaan rindu itu semakin kuat, tetapi juga diimbangi dengan beban di hati tentang target menikah.

Namun, saat saya sudah merasa putus asa. Allah membukakan sebuah jalan.
Tanggal 21 Februari 2014 saya diberangkatkan ke RS. Khusus Ginjal RA. Habibie Bandung, untuk mengikuti pelatihan Hemodialisa sebagai Teknisi selama 3 bulan dari tanggal 22 Februari s/d 22 Mei 2014. Bingung sekaligus senang waktu itu, tapi rasa senang yang lebih mendominasi.hehe

Yang ada dalam pikiran saya…
Saya di Bandung selama 3 bulan, selama itu saya tetap di gaji oleh Rumah Sakit tempat saya bekerja dan di luar gaji saya mendapatkan uang saku plus kos-kosan sudah ditanggung juga. Jadi, intinya gaji saya utuh –eh, tapi ga utuh deng, karna selama saya di Bandung saya juga tetap membayar kontrakan di Bogor yang dihuni sama Bung Eja–. Tapi ya…lumayan lah buat tabungan sebagai modal nikah nantinya.hehehe…

Langsung tuh terbayang dalam benak saya berapa uang yang bisa dikumpulkan selama 3 bulan pelatihan. Woowww…lumayanlah..hehe..

Eeehhhhh…jangan seneng dulu..
Seiring kaki melangkah menapaki tiap sudut daerah Bandung. Niat tinggalah niat.
Yah…kondisi lingkungan di Bandung banyak mempengaruhi jiwa mudaku ini. Rasa ingin mencicipi kuliner yang aneh-aneh namun enak serta menapaki tempat wisata yang indah-indah membuat saya tak bisa menahan laju duit dari dompet.

But, life must go on…. –ciyyeeee..inggrisnya keluar,hehe–
Jangan sampai gara-gara cuma pengen nikah saya jadi stress dan gak bisa berkarya. Saya harus tetap bisa bermanfaat untuk orang lain. Dan saya pun membuat sebuah targetan yang akan saya capai selama di Bandung. Ini targetnya..


Beberapa minggu di Bandung saya habiskan dengan jalan-jalan dengan teman-teman peserta pelatihan karena bukan hanya teknisi yang ada di pelatihan itu, tetapi juga ada dokter dan juga perawat. Saya akrab dengan beberapa teman perawat salah satunya Mas Fakhrudin dari RS. Moeis Samarinda. Dari beliau saya belajar semangat..semangat untuk nikah muda.hahaha… Karena beliau –kalo tidak salah– usia 24 sudah menikah. Jadi dari beliau semangat itu kembali on fire.hehe..

Dan tersebarlah kabar di kalangan teman-teman pelatihan tentang saya yang akan menikah di tahun 2014. Haduuhhhh…sapa yang ngasih tau ini ?! padahal saya pribadi engga pernah ngomong begitu. Tapi, saya anggap semua itu sebuah do’a dari teman-teman untuk saya.

Rasa semangat ini semakin membara saat saya bertemu dengan teman-teman Liqo dari ITB –Institute Teguh Budiarso, eh..walah dalah, maksudnya Institute Teknologi Bandung–. Saya se-Liqoan dengan abang-abang yang sedang kuliah S1 di ITB  yang rata-rata usianya 23 tahun dan belum pada nikah tetapi ilmu agama serta hafalannya Top Markotop. Saat agenda setor hafalan rasanya malu saya, karena yang lain sudah Juz 29 bahkan ada yang juz 28, sedangkan ane Juz 30 aja masih lupa-lupa ingat..haduh..haduh…piye iki.

Tapi justru disitu, saya jadi bersemangat untuk menambah hafalan dan terus memperluas ilmu saya yang masih cetek ini, terutama ilmu dunia pernikahan dan rumah tangga..hehe

Singkat cerita,
Pelatihan Hemodialisa pun selesai dan Alhamdulillah saya dinobatkan menjadi Teknisi Mesin Hemodialisa Terbaik Angkatan 22 dari empat teknisi yang ikut pelatihan. Dan, jeda lima hari kepulangan saya dari Bandung tepatnya tanggal 27 Mei 2014 pukul 10.00 WIB saya di SMS sama Murobbi buat ketemuan di rumahnya, katanya ada sesuatu yang ingin di obrolkan.

“Wah, ada apa nih.. nggak biasanya Murobbi minta ketemuan kayak gini,” pikir saya.
Yowis, saya bales SMS beliau “Siap 86 komandan, segera meluncur ke TKP sore ini sekitar pukul 16.00”,hehe..

Sampailah saya dirumahnya dan mulailah kami berbincang-bincang. Awalnya sih saya dengan beliau ngobrol-ngobrol biasa tentang kesehatan, pekerjaan, kegiatan ketika saya di Bandung, kondisi orang tua dan pekerjaan. Eh, tapi kok makin kesini obrolannya makin nyerempet soal nikah yak ?!

Dan..
Eeeng..Iiiing…Eeeeng…
Terjadilah sebuah dialog yang gak bakal saya lupakan.

M : Begini akhi, ana sudah menganggap antum sebagai adik ana sendiri, bahkan sebagai anak sendiri. Ana mau menanyakan kesiapan antum tentang menikah, apakah sudah siap ?
S : ­–sambil gemetar saya menjawab– Ya..kalau dari mental dan finansial insyaAllah ana siap akhi, tetapi kalo dari ilmu dan modal nikah masih belum rasa-rasanya.hehe..
M : Kalau ilmu kan bisa sambil berjalan akhi !
S : iya sih akh, tapi kan modalnya itu loh akh. Ditambah sekarang saya harus membantu keuangan orang tua untuk kedua keponakan, jadi buat ngmpulin uang itu rada susah, dan sekarang ana enggak punya tabungan sama sekali. hm…
M : Yaa..memang ana belum bisa membantu antum soal modal nikah yang antum maksud, tetapi ana akan bantu antum dalam semua hal untuk mempersiapkan pernikahan nanti. Lalu bagaimana dengan calonnya, sudah ada ?
S : hehehe…kalo buat calon anu akh, hehehe
M : Sudah ada ?
S : tak ada kata namun hanya anggukan saja sambil mesem-mesem,
M : siapa ?

Udah cukup ya dialog nya, hehe…
Intinya pas ditanya “siapa?” ada dua nama yang saya ajukan, lalu Murobbi meminta saya untuk istikhoroh dalam menentukan calon terbaik dan jalan terbaik dalam mencari modal nikah dan minta ijin ke orang tua. Oya, buat CV juga yah…hehe

Singkat cerita,
Istikhoroh Cinta saya pun terjawab oleh Allah setelah menunggu hampir sepekan, segera saya konfirmasikan ke Murobbi dan Murobbi pun langsung menindak lanjutinya. Dan tak perlu waktu yang lama ijin orang tua pun saya dapat. Alhamdulillah, ini berkat kemudahan dari Allah SWT.

Awalnya memang ortu agak berat buat nyetujuin, mamah saya menganjurkan saya untuk seneng-seneng diri sendiri dulu, tetapi saya katakan waktu itu begini..ekhem..ekhem…samakan suara…hehe

“Mah, teguh nikah muda bukan berarti bakal nutup atau menghambat segala hal tentang kesenangan teguh. Justru dengan menikah teguh bakal seneng mah, dan menikah adalah cara teguh bersenang-senang dengan yang halal, udah dapet sertifikat dari KUA lagi. Teguh itu sedari SMP punya impian, saat teguh menikah mamah dan bapak ikut mendampingi dan saat teguh punya anak mamah dan bapak juga masih sempat untuk menggendongnya. Bukan maksud teguh mendoakan yang jelek untuk mamah dan bapak. Tapi ini adalah impian teguh mah dan teguh gak bakalan minta sepeser pun uang dari mamah dan bapak buat nikah, apalagi sampe minta jual sawah buat nikah, gak bakalan ! Teguh cuma minta mamah, bapak, mba nunik, azmi dan nabil hadir. Teguh yang bakal ongkosin PP Klaten-Bogor !”

Beuuhhhh….
Galak…bener yak..hehe..
Cadas..Tegas..Trengginas, hehe..
Padahal pas ngomong begitu saya gak punya uang tabungan sama sekali. Cuma uang buat makan dan ongkos kerja doang..hehe..

Wah..kalau diinget-inget rasanya bingung banget waktu itu..
Bingung gimana nyari modal nikah yang berjuta-juta maksudnya, hehehe…
Masalahnya ijin dari ortu udah dapet, calon pun sedang di lobi sama istri Murobbi –karena kebetulan istri Murobbi kenal dekat dengan calon yang saya ajukan, tapi bagi saya ga ada yang kebetulan didunia ini, semuanya sudah Allah tetapkan– dan saya sudah tidak bisa mundur lagi, saya sudah setengah jalan, sedikit lagi sampai.

Saya pun mencoba meminjam uang dengan jaminan BPKB motor. Saya ikhtiar mencari pinjaman dari Bank Konvensional sampe Bank Syariah, dari Pegadaian Konvensional sampai Pegadaian syariah tapi enggak dapet-dapet. Waktu dalam istikhoroh, saya minta ke Allah “kalau memang dengan cara meminjam uang itu baik untukku sebagai modal nikah maka permudahlah Ya Rabb…”

Sepertinya meminjam uang bukan cara yang terbaik untuk saya, karena Allah menutup pintu pinjaman itu dari yang Haram sampe yang Halal, sehingga tak ada satu pun dari ikhtiar saya yang Goal.

Pada suatu malam, saat langit sedang berselimut, orkestra alam sedang diperdengdangkan, rasa putus asa begitu menyergap hati, aku termenung sendirian sambil menatap motor kesayangan, yah…motor kesayangan…

Motor yang selalu menemani disaat senang maupun susah. Motor yang selalu mengiringiku kemanapun aku pergi, saat hujan mengguyur ataupun matahari yang menyengat. Motor yang selalu menemaniku 24 jam. Motor yang mempermudah dalam urusan dakwah, kuliah dan mencari maisyah. Yah…motor ini adalah warisan dari orang tuaku kepadaku.

Lalu ide gila pun muncul.. “Hm…ku jual saja motor ini, hasilnya bisa ku jadikan buat modal nikah !!”

Tapi..apa kata Mamah dan Bapak nanti ?
Apa mereka bakal setuju kalau saya harus mengorbankan motor warisan ini untuk menikah ?


Bersambung…