Di lingkaran itu ku jumpai wajah saudaraku yg jenaka, pendiam dan yang tampak lelah krn byk amanah. Akal sehat ku menuntun bahwa majelis itu adl bagian paling asasi dari hidupku, mngkin jg mereka.
Di lingkaran itu kita saling bercermin diri, tentang prkembangan tilawah qur'an dan hafalannya, tentang qiyamulail dan tentang puasa sunnahny. Semangatku makin trgugah saat ada yg menyalip amal2ku dan sering kali ku malu mendapati diriku tak bisa mngatur waktu.
Di lingkaran itu kita saling mnyebutkan kabar gembira sampai kabar yg menyedihkan. Ada yg bercerita tntang amanah2nya, keluarganya, pekerjaanya, dsb.
Di lingkaran itu kita saling cicip-mencicipi makanan yg dibawakan oleh salah seorang kawan yg sdg dalam keluasan rizqi, entah itu berupa gorengan, kripik hasimili, gehu panda atau mie jigo.
Sesekali kita ganti setting prtemuannya, shubuh, siang, sore, malam sampai menginap. Kadang kita berolahraga, kita adukan kaki ini diatas rumput sintetis, memperlihatkan siapa yg paling lihai dalam memainkan si kulit bundar. Kadang juga kita berwisata, mengingat Ilahi dan mengagumi ciptaanNya. Kita berdiskusi disaksikan punggung bukit brcemara atau pasir pantai memutih diterpa gelombang.
Dan di lingkaran itu tentu yg jauh lebih utama, kita mengingat Alllah. Kita baca kitabullah, kita kupas isinya dan kita dapati bahwa Al Qur'an mnyuruh kita brsaudara dalam dekapan cinta dan mentauhidkan Allah swt.
Lingkaran itu kusebut sebagai Lingkaran Qolbu (LIQO). Menurutku ada waktu yg harus diprioritaskan untuknya lebih dari segala aktivitas lainnya. Ya..harus ada waktu yg diprioritaskan untuknya.
Karna kaidanya jelas :
Kalau ia tak bersama mereka, ia takkan bersama siapa2; kalau mereka tak bersama dengannya, mereka pasti bersama dg org selain dia.
Kadang mungkin ada kalany kita tak merasakan nikmatnya lingkaran qolbu ini. Padahal, org lain akan melihat kita berubah dan semakin buruk saat kita brhenti mnghadirinya untuk suatu waktu yg cukup lama. Memang, prtemuan ini cuma sepekan sekali. Cuma 2-3 jam dari 168 jam (7hr).
Tetapi bagaimana pun kita tahu, lingkaran ini adl majelis ilmu dan dzikir yg tak berhenti sampai bubarnya lingkaran. Ketika kita tutup pertemuan dan pergi untuk keperluan masing2, tidak ada tekad saat kita bubar, hanya saling bersalaman mendoakan, dan berharap apa yg kita bahas menjadi amal kenyataan.
Namun sejatinya lingkaran itu tak pernah bubar, ia hanya melebar. Melebar seluas aktivitas kita. Dan pekan depan, lingkaran itu merapat kembali. Begitu seterunya, karena tarbiyah itu madal hayah, ia tak lekang oleh waktu, hingga menutup usia..
Moga kau pun merasakan hangatnya lingkaran itu sahabat. Atau mungkin kau merindukannya ? Kalau begitu apa yg kau tunggu ? Bergabunglah segera, maka kau tak akan kecewa. Namun, setelah itu bisa jadi Allah akan mengujimu , mungkin dg perasaan. Kau kan merasa bahwa lingkaran ini tak seperti yg kau harapkan. Maka, bersabarlah..
"Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan." (Al Insyirah:5-6)
Resep Ust. Salim A. Fillah dan disajikan oleh Teguh Budiarso...






0 komentar:
Posting Komentar