Kalian pasti pernah
melihat secara langsung. Ada warga satu RT melakukan gotong royong, misalnya,
membersihkan mesjid, lantas diperbaharui catnya biar bagus. Nah, tiba-tiba ada
warga yang jangankan ikut gotong royong, dia baru saja gabung pas acara
makan-makan sorenya, lantas nyeletuk "Kenapa di cat hijau sih? Kenapa
nggak biru saja? Lebih bagus." Warga satu RT sebal sekali melihat orang
tersebut nyeletuk. Sialnya, orang-orang ini nggak pernah merasa, malah sok
akrab, sok kenal sekali, merasa tidak berdosa.
Atau dalam kejadian lainnya, teman-teman satu kelas lagi bahu-membahu menyelesaikan tugas guru. Nah, tiba-tiba ada teman satu group yang ikut kerja juga nggak, tapi sepanjang pekerjaan hanya bisa ngomong, "Seharusnya begini, seharusnya begitu." Dan seterusnya. Pun sama, menyebalkan sekali melihat kawan seperti ini. Apesnya, orang-orang ini jelas tidak merasa bersalah kalau dia hanya sibuk komen ngerecoki.
Atau dalam kejadian lainnya, teman-teman satu kelas lagi bahu-membahu menyelesaikan tugas guru. Nah, tiba-tiba ada teman satu group yang ikut kerja juga nggak, tapi sepanjang pekerjaan hanya bisa ngomong, "Seharusnya begini, seharusnya begitu." Dan seterusnya. Pun sama, menyebalkan sekali melihat kawan seperti ini. Apesnya, orang-orang ini jelas tidak merasa bersalah kalau dia hanya sibuk komen ngerecoki.
Nah, teruntuk para pengunjung my blog, pastikan kita TIDAK TERMASUK orang-orang sebagai berikut:
1. Memberikan komentar atas sesuatu yang sudah terjadi
Kenapa nggak ini sih,
kenapa nggak itu sih. Kenapa? Kenapa? Banyak sekali contohnya. Makanan sudah
disajikan, kita masih komen kenapa pesan ini, sih? Makanan sudah matang,
terhidang di atas meja, kita masih komen ini, itu. Sungguh komennya mubazir,
hei, sesuatu yang sudah jadi itu tidak bisa diapa-apakan lagi. Komen kita sudah
telat jenisnya, sama sekali tidak bermanfaat pula. Namanya juga sudah selesai.
Maka komen yg benar itu adalah, kalau kita tidak sreg, tidak suka, "Kenapa
kita sejak awal, sebelum terjadi, kita tidak ikut mengerjakannya, memberikan
usul. Kenapa baru sekarang kita ribut komennya?"
2. Memberikan komentar
ketika orang sedang bekerja
Ada sebuah nasehat lama
yang penting dipikirkan: Jika kita tidak ikut bekerja, maka kita sama sekali
tidak berhak ngerecoki dengan komen. Biarkan orang lain menyelesaikannya, atau
jika mau, ulurkan tangan, bantu kerjakan. Dalam setiap kerja bareng, memang
lazim, sepuluh orang, maka yang kerja hanya dua atau tiga, sisanya hanya sibuk
bicara. Pastikan kita tidak termasuk sisanya tersebut. Kalau tidak bisa bantu,
tidak peduli, lebih baik sumpal mulut sendiri, perhatikan.
3. Memberikan komentar padahal tidak paham
Ketika kita tidak paham,
tapi kita sengaja mencemplungkan diri komen, maka sama saja seketika
menunjukkan ketidakpahaman kita. Sama persis seperti seseorang berbaju merah
mencolok tiba-tiba masuk ke ruangan dengan undangan berbaju putih semua.
Mencolok sekali sok tahu kita. Kita sih ngotot merasa tahu, bilang dgn yakinnya
merasa berbeda itu keren, tapi orang seisi ruangan tahu persis kita sok tahu
dan mengganggu. Ada banyak contoh hal-hal seperti ini. Ketika ada yang membahas
tentang buku atau film misalnya, baca juga nggak pernah, nonton juga tidak
pernah, maka PD sekali ikut komen. Selalu pastikan kita benar-benar mengerti,
paham, tahu, baru ikut bicara.
4. Memberikan komentar atas hal-hal kecil
Sudah jadi kebiasaan
orang-orang sekarang, nyeletuk dalam setiap kesempatan. Hal-hal kecil
dikomentari. Hal-hal yang sudah sama-sama tahu dikomentari. Hal-hal yang semua
orang juga maklum memang begitu, tetap saja dikomentari. Jika kita kenal dengan
lawan bicara kita, mungkin itu bumbu percakapan yang baik. Tapi jika kita kenal
juga nggak, tahu juga tidak, itu yang disebut dengan SKSD, sok kenal sok dekat,
sok akrab. Selalu dipikirkan minimal dua kali saat kita mau menerjunkan diri
bicara, komen. Pastikan kalau bicara kita memang bermanfaat. Jika tidak, tentu
ambil pilihan orang-orang bijak yaitu Diam.






0 komentar:
Posting Komentar