Sulit sekali rasanya
untuk berubah. Rasanya, kita sudah terlalu enak, nikmat, dan nyaman melakukan
sesuatu hal yang padahal kita tahu itu hukumnya haram. Walaupun keadaan sudah
menuntut dan memaksa tapi tetap saja yang namanya melakukan perubahan itu sulit.
Sepertinya diri ini tidak mau melepaskan kebiasaan itu. Rasanya sulit sekali untuk melepaskannya, sulit untuk berhijrah, dan sulit untuk tidak melakukannya lagi. Ketika rasa atau niat itu ada untuk berubah seketika itu juga rasa atau niat itu hilang.
Saya ingat firman
Allah "yang dekat (kiamat) telah semakin dekat" (Q.S. An
Najm:57).
Memang . . .
Melakukan perubahan
itu sulit.
Ada sebagian dari kita
yang bisa berubah tapi ngga lama kemudian balik lagi. Ada sebagian lainnya yang
menunggu perubahan, seperti seorang tamu. Dia menunggu perubahan itu datang
kerumahnya dan mengetuk pintu rumahnya.
Hm . . .
Sadarlah teman,
Perubahan itu seperti
hidayah yang dimana kita harus menjemputnya, kita harus mencarinya, dan kita
harus berusaha semaksimal mungkin untuk meraihnya. Karena Allah SWT. hanya akan
memberikannya kepada orang yang benar-benar tulus ikhlas berusaha untuk
mendapatkannya.
Hm . . .
Sadarlah temanku,
Lakukanlah perubahan
itu dengan niat karena Allah bukan karena atau untuk siapa-siapa. Lakukanlah
perubahan itu dengan niat yang tulus ikhlas. Karena dengan hal itu perubahan
kalian akan semakin lama bertahannya dan melekat di hati kalian. Dan akhirnya
menjadi suatu kebiasaan dan disadari atau tidak disadari kalian akan semakin
jauh dari kebiasaan kalian sebelum berubah. “Bisa
karena terbiasa, terbiasa akan jadi sebuah kebiasaan, kebiasaan akan membentuk
karakter, dan kalau sudah jadi karakter akan dijadikan sebuah teladan (hal ini
berlaku untuk perkara yang baik dan buruk).”
Janganlah kalian lepas
atau melepaskan diri dari yang namanya liqo, mentoring, haloqoh, atau tarbiyah.
Karena dari situlah kalian akan mengetahui dan menemukan bagaimana cara
melakukan perubahan dalam hidup, bagaimana cara menggapai sebuah perubahan,
bagaimana mempertahankan perubahan, dsb.
Mungkin sebagian dari
kalian para pembaca akan berkata seperti ini tentang tulisan saya, "ngga jelas, ngga ngerti, ngga penting," bahkan
mungkin ada yang berkata seperti ini "kaya yang udh bener aja". Semua
perkataan itu adalah hak kalian untuk berkomentar tentang tulisan saya ini.
Tulisan ini saya ambil
dari pengalaman pribadi saya. Dimana saya akhirnya menemukan sebuah perubahan
dari masa gelap gulita ke masa terang benderang. Dan perubahan itu saya
dapatkan tidak secara cuma-cuma. Butuh pengorbanan, usaha, ikhtiar, istiqomah
dan tawakal. Dan saya menemukannya di Tarbiyah.
Baik, saya akhiri
tulisan ini dengan sebuah kata mutiara yang saya kutip dari Dr. Yusuf Al
Qaradhawi, "Orang yang melewati 1 hari dalam hidupnya tanpa ada suatu hak
yang ia tunaikan atau suatu fardhu yang ia lakukan atau kemuliaan yang ia
wariskan atau kebaikan yang ia tanamkan atau ilmu yang ia dapatkan, maka ia
telah durhaka kepada harinya dan menganiaya terhadap dirinya"
Semoga bermanfaat dan
semoga kalian bisa mengambil kesimpulan dari tulisan saya yang banyak
kekurangannya ini.
"barang siapa
mati sedangkan ia belum pernah berjihad dan ia tidak bercita-cita intuk
berjihad, maka kematiannya pada salah satu cabang kemunafikan." (HR. Muslim dalam Ash-Shahih,
III/517).
Al Faqir, Teguh
Budiarso






Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTerima kasih atas kunjungannya.
BalasHapus