Rabu, 05 Juni 2013

Semua Terserah Padamu

Standard
Ada sebuah gudang besar berisi 3 ton besi. Tiap ton berharga 1 juta. 1 ton dibawa ke jerman, diolah menjadi mobil Mercedes Benz berharga 1 milyar. 1 ton lagi dibawa ke jepang. Para insinyur Jepang mengolahnya menjadi mobil Toyota seharga 500 juta rupiah.

Nah masih 1 ton lagi kan ?
yang satu ini dibawa kesebuah tempat X di Jawa, sebuah perusahaan pembuatan cangkul, pisau, parang, wajan, sekop dan sejenisnya. Setelah diolah dengan keras bermandikan keringat, jadilah alat-alat tadi senilai 500 ribu rupiah.

Setelah Mercedez Benz, Toyota, dan cangkul serta sejenisnya kembali dihancurkan menjadi besi dan ditimbang, ternyata harganya kembali sama. Masing-masing 1 juta.

Kisah ini fiktif tapi bisa jadi nyata. Mungkin kalian bingung maksud dari cerita diatas apa.
Jadi begini, ternyata barang dan orang yang berangkat dari nol (misalnya seperti cerita diatas adalah besi), dari start yang sama bisa berbeda nilainya tergantung pengetahuan, kemauan dan kemampuan dalam memperlakukannya.

Kita masing-masing lahir dari "nol" dan akan kembali "nol" menjadi mayat yang tidak bernilai. Oleh karena itulah, nilai kita tergantung bagaimana kita mengisi dan memperlakukan diri menjadi unggul dan berprestasi.

Jadi kuncinya adalah bagaimana kita melakukan percepatan diri, apakah kita akan menjadi Mercedez Benz yang harganya 1 milyar, atau Toyota yang harganya 500 juta atau menjadi cangkul yang hrganya tidak lebih dari 500 ribu.

Semua itu tergantung kita memperlakukan diri kita.
Apabila kita memperlakukannya seperti Mecedez Benz pastinya kita akan sangat bernilai dimata Allah. Tetapi, kalau kita perlakukan diri kita seperti cangkul sudah barang tentu kita akan sangat tidak bernilai dimata Allah.

Sekarang, semua terserah padamu. Mau kau jadikan apa hidupmu dan mau kau bawa kemana hidupmu. Hidup cuma satu kali tapi dan akan bermanfaat selamanya. Allah berfirman, Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu" (Al Hujurat:13)

Resep dari Ust. Solikhin Abu Izzudin dan sedikit diberi bumbu penyedap oleh Teguh Budiarso :)

0 komentar:

Posting Komentar