Terkadang ada orang bertanya
kepada saya dengan pertanyaan "mengapa".
Contohnya,
Mengapa doa
saya tidak dikabulkan ?
Mengapa atasan di kantor
selalu mencela saya ?
Mengapa kok organisasi
kacau balau ?
Mengapa saya selalu
menjadi korban ?
Mengapa dagangan saya
sepi ?
dan mengapa,mengapa yg
lainnya...
Berbagai pertanyaan “mengapa” seperti tersebut di atas berpotensi membuat kalian semakin lemah, meningkatkan penyakit hati dan bisa menjadikan kalian manusia yang kurang bersyukur. Selain itu, mereka yang terlalu banyak bertanya “mengapa” dalam konteks yang tidak tepat akan cenderung menjadi trouble maker (pembuat masalah) dibandingkan menjadi problem solver (pemecah masalah).
Berlatihlah dari banyak
mengajukan pertanyaan "mengapa" menjadi "bagaimana".
Contohnya,
Bagaimana agar doa
saya dikabulkan ?
Bagaimana caranya agar
atasan di kantor percaya kepada saya ?
Bagaimana agar
organisasi yg saya pimpin menjadi terorganisir ?
Bagaimana caranya agar
supaya dagangan saya ramai ?
Mengubah pertanyaan "mengapa" menjadi "bagaimana" akan membuat kalian menjadi orang yang lebih banyak
memikirkan solusi daripada masalah. kalian juga akan menemukan banyak
alternatif positif yang ada di sekitar kehidupan kalian. Pertanyaan “bagaimana”
akan membuat otak kalian aktif bekerja dan itu sangat berguna bagi kehidupan
kalian.
Cobalah duduk sejenak,
sambil menikmati
orkestra alam yang para pemainnya bisa jangkrik atau bintang-bintang. Lalu
renungkan hal-hal yang selama ini kalian bertanya “mengapa” dan segeralah ubah
menjadi “bagaimana”.
Semoga bermanfaat dan
menjadi Pijat Refleksi ditengah hiruk pikuk aktifitas yg tengah dijalani.. :)
Diambil dari Blognya Kakek Jamil Azzaini dan diketik ulang oleh Teguh Budiarso






0 komentar:
Posting Komentar